Minggu, 22 Juni 2014

Bali itu bukan cuma Kuta

Bali itu bukan cuma Kuta , hal ini cocok ditujukan buat para mainstreamer yang bikin Kuta macet poll-poll an , apalagi pas sunset time. Dengan menulis ini saya berharap nya sih para Kuta ers jadi berkurang. Lets move on guys, Bali itu gak cuma Kuta tok , jadi jangan ngubek Kuta yang dah semakin lusuh. 
Jadi ceritanya libur akhir taun 2013 kmaren saya memilih untuk menghabiskan pergantian tahun di Bali sama temen baik saya, Purna yang emang rumahnya di sana. Agenda saya cukup padat antara lain ke Bali timur dan Lembongan. Ini pertama kalinya saya bepergian ke Bali dari Malang naik bus Gunung Harta, dan ternyata cukup nyaman dan aman, cuma agak lama aja nyampe nya, hahahaha. Rencananya saya akan di Bali selama kurang lebih 5 hari. Hari pertama kita memutuskan untuk menjelajah ke utara, menuju the famous Danau Bedugul. Perjalanan ke Bedugul dari Denpasar cukup jauh dengan medan yang berkelok, apalagi kali itu kita naik motor. Sampai bedugul sudah cukup sore, sekitar jam 3 sore dan Bedugul lagi dipenuhi turis lokal. Saya memang agak sedih kalau lokasi wisata sudah dipenuhi turis lokal, bukan karena saya benci, tapi mereka punya kebiasaan nyampah dimana-mana , walhasil object wisata yang penuh turis lokal dapat dipastikan kotor oleh sampah mereka. Lepas dari kebiasaan buruk itu, bedugul was great temple with beautifull scenary.
Bedugul Lake and the temple
Hari kedua kita berencana menjelajah Bali Timur, sampai taman ujung dan Amed. Perjalanan ke Bali Timur ini cukup nekat karena jarak yang ditempuh cukup dasyat, pakai motor pula. Persinggahan pertama kita adalah Pantai Candi Dasa, di pantai ini saya bingung, begitu banyak bule sliweran, tapi saya belum nemu object wisata yang spektakuler di sini. Biasanya tolak ukur daerah wisata itu bagus kalo di Bali sih yang banyak bule nya ketimbang orang lokal, ini kita muter ampe elek blum nemu objek yang menarik. Usut punya usut ternyata pantai pasir putih yang bagus ternyata nyempil agak jauh dari jalan besar, dan kita gak sempat keliling lagi. Dan lokasi pantai yang bagus-bagus sudah banyak di privatisasi oleh hotel mewah, macam Alila Manggis.
Candi Dasa public beach
Lagoon near Candi Dasa Beach
Selesai berpanas-panasan di candi dasa, kita melanjutkan perjalanan ke arah Timur, dengan tujuan yang blum juga jelas, between taman ujung atau Amed. Akhirnya dengan sedikit linglung kita sampai di taman ujung dan benar-benar kagum dengan keindahan taman yang satu ini. Seumur-umur wisata ke berbagai taman, baru kali ini saya terkagum-kagum dengan konsep taman peristirahatan raja ini. Bangunan utama terletak di tengah kolam buatan yang di hubungkan dengan jembatan yang luar biasa cantiknya. Adapun panorama view terdapat di atas bukit berupa gapura yang sudah rusak tapi masih cantik. Dari panorama view ini kita bisa mengerti mengapa taman ini diberi nama taman ujung, karena letaknya benar-benar di ujung timur pulau Bali.
Main Building of Taman Ujung
At Panorama View
Purna with the ruin gazebo of taman ujung panorama view
Puas berfoto-foto di taman ujung, kita melanjutkan perjalanan ke Amed dengan kondisi capek banget, plus ekspektasi tentang betapa terkenalnya Amed. Perjalanan dari taman ujung ke Amed lumayan jauh, tapi alam Bali Timur emang benar-benar cantik, berkontur, dan dipenuhi bukit-bukit rumput macam di nusa tenggara gitu. Satu lagi soal warna pasir pantai, pasir pantai di pesisir bali bagian timur berwarna hitam, bukan putih layaknya di kuta atau padang-padang. Faktor capek benar-benar membuat kita setengah mati mangkel, menyadari bahwa Amed ini merupakan pantai nelayan nan amis, saya tahu bahwa amed merupakan salah satu spot diving dan snorkling, tapi tidak menyangka bahwa pantainya adalah pantai nelayan. Setelah nanya kanan kiri akhirnya kita di arahkan ke pantai jemeluk, tepatnya sebuah panorama view untuk melihat garis pantai Amed, and it was amazing view guys. Garis pantai yang melengkung, bukit-bukit hijau plus pasir hitam merupakan perpaduan yang jarang ada. Sayang nya kita sudah kelewat sore sampai di sana, dan cuaca agak mendung, jika cuaca cerah, kita bisa melihat view gunung Rinjani di sini.
Beach Line of Amed
Black Sand over Amed Beach
Hari sudah cukup sore, ketika kita beranjak dari Amed, dengan sedikit ngebut kita menuju Karang Asem untuk mengunjungi rumah teman. Hari sudah malam ketika kita balik ke Denpasar via Karang Asem, sedikit was-was akan tetapi jalanan terbukti cukup aman bahkan untuk para wanita. So after all pesan untuk semua turis yang berencana ke Bali, please yang sopan, jangan nyampah dan menikmati alam itu tidak harus dengan hura-hura gak jelas seperti tingkah turis di Kuta. Bali Timur pilihan yang tepat buat yang hoby nyepi, semedi dan diving, mengingat lokasi nya yang adem ayem dan belum dipenuhi para party goers. So lets explore Indonesia and keep its beauty.

Minggu, 15 Juni 2014

Riot On An Empty Street


This is the title of my favorite song, I love the music and its unique title. Wondering how can the riot will happen at the empty street. And do you know what the album names?'declaration of dependence', is uncommon type of declaration. Common people usually declaration their independence instead of declaration their dependence. I will give 'King of Convenience' an applause for their album.hahahaha
Time flies, many thing comes to my life and I always laugh about 'declaration of dependence'. After I do travel often, I can take a deduction that all of us should make a celebration of our dependence. No one in the world can live pure independence, you need other people although as an audience. At my case i am already declaration my dependence about traveling. I do love traveling, traveling often make my mind open and always being grateful. Meet many type of people make me learn how to respect each other. Seeing beautiful landscape scenery make me more loving The Lord, who create the universe very perfectly. When other people get busy about buying precious things, I treat my self with buying experience from traveling.
Then why I always make a 'traveling report' here? because in the future i want my son/daughter know how and where their mom buying her experience. The world is just too large for one people, and only stupid people who didn't  share their world with other. I know every person have their target priority in their life, i just want to say don't judge other people priority just to make excuse that you cannot do it. I don't have my own house, expensive car, high class gadget or gorgeous fashion item, i just need to travel far, so never be jealous when I go for holiday guys. Just enjoy your life and live your dream come true. No need to push yourself too hard, just do what you love and love what you do. If you love to travel just go, if you love to sit in your manager chair,love it, don't even grumpy about your jobs or your boss.  After all happy Monday good people.






Senin, 02 Juni 2014

Enjoying Bangkok during Shutdown

Kenapa saya pilih judul itu? Cerita nya saya mau sharing plus membandingkan keadaan demo di Thailand dan di Indonesia yang notabene sama-sama Asia nya. Suer pas mau ke Bangkok dan para demonstran memutuskan untuk melumpuhkan ibu kota dengan indahnya bikin saya ciut. Saya membayangkan macam demo tahun 98 yang lagi melanda Jakarta gara-gara gonjang ganjing politik, yang menurut saya (yang waktu itu msh SMP) serem abis. Jadilah sebelum berangkat saya heboh tanya kanan kiri terutama ke pelancong yang lagi di Bangkok gimana sih situasi sesungguhnya. Pertanyaan dari semua pelancong adalah sama, is it safe to travel around Bangkok during shutdown?.Untung ada mb Dina @duaransel yang dengan baik hati mengarahkankan plus mengumpulkan kita-kita yang akan ke Bangkok pada saat shutdown. Dari hasil ngobrol dan liat poto kiriman mereka, kesimpulannya adalah tidak ada jaminan keamanan, asalkan kalian tidak ikut demo dan terjun ke jalan semua aman. Ketika saya nulis blog ini ternyata situasi Bangkok lebih gawat lagi ketimbang bulan Januari ketika saya berkunjung. Saat ini Bangkok lagi menerapkan martial law ato hukum darurat militer. Jam malam diberlakukan, tentara berkeliaran di seluruh penjuru kota dan saluran tv plus internet dimatikan. Ya ampun begitu menakutkannya situasi darurat militer yang tegas dan mencekam ini. Sebagai turis saya cuma berdoa semoga Bangkok segera pulih sehingga saya bisa dengan leluasa ke sana lagi hahahahaha.
Back to the story, selepas dari Ayuthaya saya dan Evi lanjut ke Bangkok, rencananya kita bakal di Bangkok selama kurang lebih 2 hari 1 malam. Evi yang sudah sempet muter-muter di Bangkok hari sebelumnya pun 'nyrocos' tentang demo yang lagi heboh di siarin di TV. Evi bilang ' wes ta beda demo nya ama di tempat kita, dia mah demo nya kayak lagi ndengerin ceramah agama, plus di kasih hiburan live music, aman' , mendengar kata terakhir yang dilontarkan evi saya udah seneng banget, gak peduli kayak apa type demo nya asal aman saya tenang. Sore itu kita nyampe di stasiun Bang Sue Bangkok sekitar jam 5 sore. Kita bermaksud untuk melanjutkan perjalanan ke hostel si Sutisan pake taksi karena sudah kelewat capek. Tetapi nasib berkata lain, taksi di sini sangat beradab pemirsa, mereka nggak mau nganter ke lokasi yang dia sendiri gak tahu letaknya di mana, padahal itu deket loh kalo di peta, beda banget ama sopir taksi kita yang bermental pemberani,angkut dlu urusan nyasar ntar. Karena gak ada taksi yang mau ngangkut kita, jadilah kita naik MRT ke Sutisan. Sampe Sutisan masih tolah-toleh bingung (si evi blum apal jalan pulang ke hostel pemirsa) akhirnya kita naik ojek buat sampe hostel setelah sebelumnya 'njajan gorengan lucu2 di emperan jalan suthisan'. 
Kita nginep di Siamze hostel Suthisan, berjarak kira-kira 10 menit jalan kaki dari stasiun MRT Suthisan. Hostelnya masih baru, jadi bersih nyaman dan aman, sekelas hotel bintang 4 tapi di buat hostel. Tarif semalam di hostel ini sekitar 150 ribu rupiah/ malam, sangat value for money dengan fasilitas yang ditawarkan dan pantas dapat review 94% dari hostelworld hahahaha. Kelemahan hostel ini hanyalah doi jauh dari pusat kota, tapi selama dekat dengan stasiun MRT sih hal itu masih bisa saya maafkan, dan lagi semua org melarang saya untuk pesan hotel di area shukumvit,silom ato Siam yang jadi pusat demo. Adapun khaosan road saya kurang berminat stay di sana mengingat akses yang msh terbatas (tdk ada MRT) dan susah untuk ke bandara dari Khaosan jika sedang ada demo besar di kota. Panjang ya pertimbangannya, yup karena saya takut banget terjebak di demo ato rally yang gosibnya berbahaya.
Jadi setelah puas mandi sholat dan ngobrol ama teman se dorm, kita bermaksud ke Chatucak market buat belanja. Unfortunately, karena situasi Bangkok yang kurang kondusif di malam hari, Chatucak tutup, dia hanya buka di weekend pagi yang artinya kita gak bakal sempet ke sini, dengan jadwal kita yang sudah padat merayap. Mengurangi kekecewaan , akhirnya kita naik MRT ke Asiatique yang kabarnya tetap buka during shutdown. Hal yang masih saya ingat ialah di stasiun MRT Chatucak ada 2 orang turis China yang kesulitan berbahasa Inggris ngasih tiket terusan MRT nya ke kita berdua, karena mereka sudah mau balik ke bandara, kita ampe terharu dengan niat mulia mereka dan akhirnya kita bisa jalan-jalan ke Asiatique gratis karena kartu yang di donasikan ama turis baik hati itu. Dari Chatucak kita naik MRT ke Saphan Taksin untuk kemudian melanjutkan perjalanan pake boat yang disediakan gratis ke Asiatique. So Asiatique ini emang tempat yang lagi ngehits abis di Bangkok. Terletak di tepi sungai Chao Praya dan buka dari jam 3 sore ampe midnite, tempat ini dipenuhi cafe-cafe lucu plus tempat belanja yang sipp banget deh.
Asiatique the riverfront
Oh iya kalau masih mau pulang naik MRT lagi, kalian harus estimasi waktu, kalau tidak salah MRT beroperasi sampai jam 11 malam saja, begitupula dengan boat gratisan dari Asiatique. Demi untuk mengejar MRT terakhir kita sedikit berlari-lari ketika pulang dari Asiatique ke hostel di suthisan.
Jadwal acara kita di hari berikutnya adalah mengunjungi Grand Palace, Wat Arun,Wat Pho plus sedikit berbelanja di Pratunam Market. Acara kita sudah sangat padat hari itu, karena kita akan balik ke Surabaya jam 8 malam, artinya jam 6 kita sudah harus nyampe hostel lagi untuk kemudian lanjut ke airport. Dan seluruh rangkaian amazing race ini kita mulai dengan mengunjungi Wat Arun dengan naik MRT dan boat. Sama seperti ke Asiatique, kita naik MRT oper BTS ke Saphan Taksin (Central Peer) untuk lanjut naik public boat ke Wat Arun. Di Saphan Taksin ini ada berbagai macam opsi naik boat, kalau mau murah mending pilih public boat bayarnya kalau gak salah hanya sekitar 10 THB untuk sekali jalan. Bagaimana cara mengetahui kita akan naik boat yang murah itu?perlu ditandai bahwa public boat ini memiliki bendera ORANGE dan memiliki antrian penumpang paling panjang. Dari peer wat arun kalian harus nyebrang ke arah sebaliknya (Wat arunnya di sisi seberang peer) dengan tarif 3 THB. Adapun entrance fee ke Wat arun sekitar 50 THB cukup mahal, tapi emang temple nya bagus banget, dan kita bisa uji kaki dengan naik ke menara Wat Arun untuk melihat pemandangan Chao Praya river from above.
Chao Praya river from above
Sepanjang tangga kenangan
Temple of Dawn Wat Arun
Selesai photo-photo dan olahraga naik tangga, kita meluncur ke Wat Pho dan Grand Palace dengan naik boat ke seberang sungai dengan tarif sama seperti berangkat yaitu 3 THB. Peer/ pelabuhan wat arun ini disulap jadi pasar wisata yang menjual aneka barang loh, tapi karena kita buru-buru kita melewatkan acara window shoping dan langsung menuju Wat Pho tempat gold reclining budha berada. Sekali lagi jika mau berkunjung ke temple-temple pastikan pakaian kalian sopan, jangan pakai celana pendek plus tengtop/ kaos oblong karena pasti gak boleh masuk. Entrance fee ke wat pho lumayan mahal sekitar 100 THB (kalau gak salah). Temple ini cukup luas, selain temple utama yang berisi reclining budha, terdapat temple-temple lain di area ini.
Reclining Budha
Miniatur Wat Arun
Dari Wat Pho ke Grand Palace bisa ditempuh dengan jalan sehat mutering tembok istana, intinya Wat Pho ini hadap-hadapan ama Grand Palace sisi belakang, jadi kita kudu muterin separoh istana untuk mencapai pintu masuknya. Entrance fee ke Grand Palace ini paling mahal sekitar 150 THB (lupa persisnya) tapi dijamin gak nyesel kok bayar sedemikian mahalnya demi masuk istana yang luar biasa indahnya. Kawasan Grand Palace ini guede, mulai dari kuil, istana kerajaan, sampe lapangan tempat upacara hahahaha.
kerumunan kuil di Grand Palace
The Palace
Another part of Grand Palace
Setelah puas jalan-jalan di Grand Palace kita meneruskan perjalanan menuju Pratunam dengan menggunakan boat+MRT. Boat yang menuju ke central peer ternyata antri panjang pemirsa, jadi harap siapkan mental jika mau naik, dan setelah kita naik dari peer grand Palace, mereka tidak bisa ngangkut penumpang lain di peer berikutnya seperti peer Wat Arun. Jadi saya sarankan 'nyegat' boatnya dari peer grand palace ajah.
Sebenarnya tidak ada MRT yang menuju pratunam, jadi kalau mau ke pratunam ada 2 opsi turun di Siam center atau di Ratchadewi, karena kita butuh makan siang dan ngadem, akhirnya kita memutuskan untuk turun di Siam Centre. Siam centre ini terhubung dengan skybridge ke Siam Paragon Shopping mall yang guede poll. Puas makan dan ngadem di Siam Paragon kita mulai bergerak ke Pratunam dengan jalan kaki, yang ternyata cukup jauh plus menerjang acara demo.
Pratunam ini sebenarnya adalah shopping centre yang terdiri dari banyak mall yang jualan macam ITC. Kalau kamu suka baju-baju korea nan lucu boleh menggerebek Platinum Mall, ada juga Phantip Plaza yang rame banget, oh ya jangan salah orang di sini belanja gak bawa kresek blanjaan lagi, tapi pada bawa koper. Koper-koper dari plastik maupun koper yang sesungguhnya dijual bak kacang goreng di emperan sepanjang jalan. So walaupun demo sedang berlangsung khidmat di perempatan jalan, toko-toko dan mall buka seperti biasa, hanya jam tutupnya jadi lebih awal.
Sayang sekali saya tidak memotret jalannya demo, yang menurut saya lebih cocok dikatakan sebagai panggung hiburan rakyat, lengkap dengan penjual kaki lima di sekitarnya. So bagi kalian yang sudah punya tiket ke Bangkok, trus galau dengan kondisi demo nya mereka, based on my experience selama kalian tidak terjun ke area demo dan pulangnya gak kemaleman semua baik-baik saja. Just stay away from demo and rally site, kalau perlu selalu pakai MRT dan BTS yang gak nyentuh jalanan sama sekali. Dan kalau mau mencari lokasi menginap yang aman tentram, cari hotel di sepanjang Chao Praya river, jadi in case terjadi chaos kalian bisa tetap ke bandara pakai boat. Of course nginep di tepi Chao Praya mahal banget, kalau mau yang ngirit tapi aman ya macam saya nginepnya agak jauhan di Suthisan tapi dekat dengan stasiun MRT.
Ok afterall, is a new experience about enjoying Bangkok during shutdown. Semoga keadaan politik di sana cepat pulih, walaupun katanya militer bakal menerapkan 'martial law' selama minimal setahun. Jadi saya bisa ke sana lagi buat nerusin belanja di pratunam,hahahahha.


Minggu, 25 Mei 2014

Visiting Ayuthaya Historical Park in a shoe string

Ayuthaya dan Bangkok merupakan destinasi favorit bagi orang Indonesia. Untuk menuju ke pusat kota Ayuthaya kita harus nyebrang sungai dulu, karena kota  ini basicly adalah delta sungai. Keuntungan geografis ayuthaya yang dikelilingi sungai buat orang yang hobi nyasar macam saya adalah, kalau sudah ketemu sungai berarti kita sudah diluar area kota. 
Kalau kamu masuk ke Ayuthaya pakai kereta api seperti saya, kamu harus jalan kaki sampai ke peer nya perahu lokal yang berjarak kira-kira 100 m dari depan stasiun kereta. Selanjutnya kamu bisa naik kapal angkutan ke seberang dengan ongkos yang cukup murah kira-kira 5 THB (lupa persisnya). Opsi lain jika males jalan jauh karena waktu yang singkat, kamu bisa nyewa motor dengan tarif 150 THB seharian,atau sepeda dengan tarif 50 THB. Opsi lain kalau kamu malas jalan dan gak bisa mengendarai 2 kendaraan tersebut diatas kamu bisa nyewa tuk-tuk untuk muter-muter Ayuthaya,sayangnya saya gak sempet tanya berapa tarif per jam nya. Saya memilih untuk jalan kaki, karena penasaran aja plus punya waktu yang cukup longgar sembari nunggu teman saya. Btw jalan kaki dari peer perahu ke pusat tourism di Ayuthaya lumayan jauh loh, out off my expectation,jadi saya gak recomen, tapi kalau mau amazing race kayak saya sih monggo. Karena capek jalan kaki, saya nelpon temen yang masih otw ke Ayuthaya by train dari Bangkok buat nyewa motor di dekat stasiun dan menjemput saya di Wat Mahatat.
Peta Ayuthaya di Stasiun Kereta
Aktivitas utama yang bisa dilakukan di Ayuthaya adalah wisata sejarah. Kota Ayuthaya sendiri merupakan warisan sejarah dunia yang dilindungi UNESCO, seluruh area candi (Wat) masuk dalam kawasan historical park, bagusnya situs sejarah di lindungi UNESCO adalah venue nya terawat, minusnya kita harus bayar entrance fee yang lumayan mahal untuk masuk ke candi-candi ini. Entrance fee yang di patok untuk masuk ke tiap candi adalah 50 THB sekitar 20 ribu rupiah. Jadi untuk memaksimalkan dan menghemat ongkos masuk candi, kamu mending browsing dulu candi mana yang mau di masukin, karena di sana ada banyak banget kompleks candi. Yang recomen buat saya sih Wat Mahathat, Viharn Phra Mongkol Bophit, Wat Yai Chai Mongkol , Wat Lokayushutaram, Wat Chai Wattanaram. Dari keempat wat yang saya sebut di atas yang saya lewatkan padahal sangat pengen saya lihat adalah Wat Yai Chai Mongkol, karena tidak sukses mencari dan kurang browsing. Selain melihat candi- candi, aktivitas lain yang bisa dilakukan adalah naik gajah keliling komplek candi, tapi tidak saya lakukan karena kasihan lihat gajahnya semi di siksa gitu buat di naikin. Ok sekarang saya kasih gambaran rute yang cukup rasional untuk dilakukan di Ayuthaya historical park dan apa yang bisa dilihat di sini. Khusus untuk Wat Yai Chai saya cuma bisa kasih foto (hasil browsing) tapi tidak bisa kasih petunjuk (silahkan googling).
1. Wat Mahathat
     Wat Mahathat ini cocok dijadikan destinasi pertama karena letaknya di ujung depan komplek historical park ini. Ongkos masuk nya 50 THB, komplek candi ini cukup besar, bentuknya macam candi prambanan, kalau lonely planet bilang Angkor style, dengan stupa-stupa tinggi yang terbuat dari teracota (semacam batu bata) yang berwarna coklat. Highlight dari kawasan ini adalah lihat kepala budha yang terlilit di akar pohon. Saya ke candi ini ketika hari masih pagi, yang artinya belum banyak turis yang masuk and it was amazing, puas banget photo-photo candi coklat ini.

komplek Wat Mahathat
Kepala Budha di dalam pohon
2. Viharn Phra Mongkol Bophit
     Vihara ini merupakan bangunan vihara paling besar di Ayuthaya. Letak vihara ini berada di belakang Wat Mahathat kira-kira 500 m, bisa di tempuh dengan jalan kaki atau naik motor. Bentuk vihara ini persis seperti kuil/kuil yang saya kunjungi di Chiang Mai. Di dalam vihara terdapat banyak photo sejarah Ayuthaya dan Patung Budha yang sangat besar. Tidak ada entrance fee untuk masuk ke vihara ini, tapi pastikan kamu memakai pakaian yang sopan, menutup lengan dan kaki.
Vihara tampak depan
Patung Budha di dalam vihara
3. Melihat Gajah dari dekat
    Di sebelah kiri Vihara terdapat camp pelatihan gajah, yang juga merupakan shelter/terminal bagi yang mau naik gajah keliling historical park. Saat itu saya cuma duduk di bangku penonton bersama puluhan murid TK yang lagi nonton gajah kecil ber pose. Setelah anak-anak TK tadi pergi, hanya tinggal saya ,evi (teman saya) dan bule sekeluarga. Pawang nya sudah maksa-maksa kita buat pose ama si kecil, tapi saya takut keseruduk (walo kecil doi gendut gitu), akhirnya cuma berakhir nontonin anak bule kasih makan gajah kecil. Di arena ini kalau kamu cuma jadi penonton kayak saya gratis, kalau kamu mau memberi makan dan foto bersama gajah baru dikenakan biaya. Lumayan menghibur acara duduk-duduk sambil melepas lelah di camp gajah ini.
Feeding baby Elephant
The cute baby Elephant
Riding Elephant around the town
4. Wat Phra Si Sanphet
     Candi  yang satu ini terletak masih satu komplek sama vihara. Saya dan evi memutuskan untuk tidak masuk, karena sebelumnya kita sudah bulak-balik masuk komplek candi yang bentuknya serupa tapi tak sama.Kenapa saya recomend candi ini? karena ternyata setelah kita muter-muter ke arah sebaliknya gegara nyasar, kita baru sadar si candi ini cantik, dan style nya tidak sama ama candi-candi sebelumnya. Bentuk candi ini adalah kumpulan stupa-stupa putih nan cantik, walaupun di sana sini terlihat banyak yang rusak, tapi overall masih worth it buat di photo dan dilihat.
Wat Phra Si Sanpet di intip dari luar pager

Stupa dan ranting frangipani

5. Wat Lokayushutaram
    Sebenarnya wat yang satu ini nggak ada candi nya. Isi dari wat Lokayushutaram ini adalah patung budha tidur (reclining budha) macem yang ada di Wat Pho Bangkok tapi terbuat dari batu biasa, dan dari penampakannya si patung udah cukup udzur, karena sudah terkelupas di sana-sini. Fyi untuk nyari patung ini kita sampai nyasar kemana mana. Untuk patokan biar tidak ada yang nyasar lagi setelah baca blog ini adalah, letak reclining Budha ini berada di belakang komplek vihara, kalian harus nyebrang parit dan menemukan jalan kecil (yang tdk ada plangnya) untuk menuju ke sini. Tapi alasan kedua kenapa kita nyasar sih lebih kepada kita berdua adalah 'map eater' sejelas apapun itu peta tetep gak bisa paham arahnya. Tapi sekarang saya lebih bisa menerima kekurangan saya soal hobi nyasar ini, bahwa nyasar itu gak perlu takut, bahwa sebenarnya nyasar adalah sarana untuk menemukan tempat yang belum pernah/ tidak kita rencanakan untuk didatangi yang ternyata indah dan menarik. Jadi tagline untuk menyemangati diri biar gak takut nyasar adalah ' Lets Get Lost'.
Reclining Budha
6. Wat Chai Wattanaram
     Wat yang satu ini kita kunjungi karena kepincut photo postcard yang kita lihat di Ayuthaya. See betapa impulsive dan tak terencananya kita tentang tujuan. Wat Chai Wattanaram ini letaknya di luar delta sungai Ayuthaya, artinya kalian kudu nyebrang dulu ke luar pulau kecil itu. Kali ini kita sedikit banyak nyasar karena di bantu pak polisi yang giat bekerja. Beda nya polisi di Thailand dan di Indo adalah, kalo di Thailand ada turis yang keliatan hilang arah pak polisi bakal nyamperin dan di kasih arahan yang benar (plus ijin lawan arus dikit), di Indonesia jangan kan turis asing, warga lokal kelihatan 'lolak-lolok' bingung malah di biarin, kalo bisa ditungguin sampe doi ngelanggar rambu trus di tilang. Maksud saya mbok ya yang hobi dinas/ studi banding itu lihat hal-hal kecil kayak gini (yang gak bakalan dapet kalo situ pake tour nyaman yang di anter bis). Jadi candi yang kita kunjungi ini serupa tapi tak sama ama Wat Mahatthat, angkor style gitu tapi struktur kompleknya masih bagus. Ketika kita berkunjung, ada selusin mahasiswa arsitektur yang lagi nongkrong di sini sambil nggambar sketsa. Ini nggambar pake tangan loh ya, bukan moto trus di oprek biar 'keliatan kayak gambar tangan'.
Komplek candi Wat Chai Wattanaram
Seriously saya nge fans ama warna coklatnya
7. Wat Yai Chai Mongkol
     Wat yang satu ini belum sukses saya temukan, gegara gak tau sebenarnya nama candi nya apa, cuma tahu isi nya adalah reclining budha dan jajaran budha kecil-kecil yang lagi duduk. Itulah akibat dari kurang belajar sebelum pergi mbolang, biar tidak ada lagi makhluk-makhluk yang tersesat macam saya lagi, ini saya kasih tourism map yang mencantumkan letak Wat Chai Mongkol plus photo isi nya kuil. Khusus untuk photo ini saya download dari internet (bukan jepretan sendiri) demi biar kalian tau seperti apa penampakannya si candi ini.
Nomer 31 pemirsa silahkan dipelajari petanya
patung budha duduk
reclining budha yang berbaju
Setelah puas jalan-jalan di delta Ayuthaya, saya dan evi bermaksud untuk kembali ke stasiun untuk balikin motor plus makan, sebelum melanjutkan perjalanan ke Bangkok dengan kereta. Akan tetapi niat lurus nan mulia kita buyar gara-gara peta abal-abal nan menyesatkan, kita kesasar sampe ke perkampungan penduduk yang notabene gak bisa ngomong Inggris apalagi Bahasa Indonesia. Setelah hampir sejam nyasar, akhirnya dengan rajin membaca papan pintar dua aksara kita sampai dengan kusut di stasiun. Akhirnya kita mengakhiri amazing race seharian di Ayuthaya dengan makan tom yam langsung di negara nya, lumayan enak untuk ukuran makan di warteg. Dan sambil nunggu kereta si evi masih sempet jajan cemilan sayap ayam bakar plus rujak bebeg (ayam itu cemilan loh). Kereta ekonomi yang kita naiki ke Bangkok bertarif sangat murah pemirsa cuma 20 THB ajah, yang kata evi murahan kreta antar kota ketimbang BTS (Bangkok Sky Train). Fyi evi di hari sebelumnya sudah sukses nyasar keliling Bangkok yang lagi demo pake BTS , kata dia ' tekor ak kluar masuk kreta iki'. Perjalanan Ayuthaya- Bangkok ini ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam, kereta nya cukup nyaman walaupun kelasnya ekonomi dan tidak ada AC. Selesailah tur sejarah kita di Ayuthaya hari itu, cukup gempor dan melelahkan, tapi seneng. For evi, vi jangan kapok nyasar bareng ya.
(To be Continued)

Sabtu, 17 Mei 2014

A night at sleeper train

Sore itu saya sampai di hostel Chiang Mai sekitar jam 3 sore. Bermaksud untuk check out,numpang sholat plus leyeh-leyeh, sebelum meneruskan perjalanan ke Ayuthaya dengan sleeper train. Dan acara leyeh-leyeh saya gagal total gegara Jacky, touris asal Amiriki yang menelpon dan mengabari bahwa barangnya ketinggalan di hostel. Jacky dan saya sama-sama akan naik sleeper train dengan jadwal keberangkatan yang terpaut setengah jam, kereta jacky berangkat jam 5 sore dan kereta saya berangkat jam 5.30 sore. Karena telepon  panik Jacky yang minta tolong saya buat 'nyangking' barang-barang nya,  saya jadi tergesa-gesa berangkat ke stasiun. Tuk-tuk yang saya tumpangi sampai mau terbang gegara dipake ngebut ama pak sopir. Hilang sudah impian mau naik tuk-tuk dengan santai sambil liat-liat kota, padahal ya barangnya si jacky yang ketinggalan itu adalah logistiknya si doi duhhh.
Sesampainya di stasiun Jacky sudah nangkring di pintu masuk dan dengan ber binar-binar menerima barangnya, sedangkan saya mulai mati gaya ngapain di stasiun selama 45 menit gini.Akhirnya saya mengelilingi stasiun kecil itu sambil mengamati orang lalu lalang. Stasiun Chiang Mai ini kecil, hanya seukuran stasiun di kota Malang. Sore itu hanya ada 2 kereta yang akan diberangkatkan semua nya memiliki tujuan akhir Bangkok.
Chiang Mai train station
Gerbong sleeping Train
Segera setelah kereta Jacky diberangkatkan saya naik ke kereta saya dan mulai mencari seat saya. Sleeper train ini sangat populer di Thailand, sehingga perlu keberuntungan tinggi untuk bisa mendapatkan tiket 'go show'. Beruntung hostel tempat saya baik hati, mereka dengan senang hati membelikan saya tiket kereta api tanpa minta pembayaran uang muka . Saya hanya kirim data passport via email dan membayar tiket kereta  sekalian sama bayar kamar ketika check out. 
Kesalahan fatal yang saya buat ketika booking tiket kereta via hostel adalah saya gak bilang bahwa saya cewek. You know what mereka mengira saya cowok, dan tiket saya bertuliskan Mr. Puput, ketika pak masinis melakukan check tiket,dia ampe lama bengong ngeliatin saya.hiks
Sleeper train yang melayani rute Chiang Mai- Bangkok ini adalah train bekas Jepang. Kecepatan kereta nya juga tergolong lambat, untuk jarak sekitar 800km di tempuh dalam waktu 13 jam. Bandingkan dengan kereta malam Anggrek jurusan Jakarta-Surabaya yang memiliki waktu tempuh 9 jam untuk jarak yang kurang lebih sama yaitu 900 km. Untunglah kereta ini dilengkapi fasilitas sleeper/bed sehingga waktu 13 jam perjalanan dapat dimanfaatkan untuk tidur di bed.
Ada 2 macam jenis tiket sleeper, macam di dormitory gitu ada seat upper and lower. Tiket lower sedikit lebih mahal daripada upper, wajar karena tempat tidur di bawah lebih luas dan nyaman ketimbang di atas. Jadi ketika hari masih sore bangku-bangku kereta masih normal layaknya bangku kereta kelas bisnis. Begitu matahari sudah tenggelam, petugas mulai berkeliling untuk mengatur bangku-bangku tersebut jadi bed- bed yang nyaman ditiduri. Nice experience lah numpang tidur di sleeper train ini. Kita bisa menghemat biaya hotel dan biaya perjalanan sekaligus. Jadi malam itu saya tidur dengan sangat nyaman di lower bed nya sleeper train sampai pagi. Pukul 6 pagi kereta yang saya tumpangi sampai di Ayuthaya dengan gemilang. Saya turun di Ayuthaya untuk melihat-lihat kota tua nya, sebelum meneruskan perjalanan ke Bangkok di sore hari.
Kondisi kereta di siang hari
Kondisi kereta di malam hari
welcome to Ayuthaya
(To be continued)

Minggu, 16 Maret 2014

Wisata religi di kota seribu kuil Chiang Mai

Kata-kata wisata religi ini terucap pertama kali oleh temen saya Akhyar ketika kita sedang temple hopping di Penang. Dan ketika tau saya ngotot minta di temani ke Chiang Mai doi melontarkan hal yang sama, belum puas lo wisata religi?saya cuma cekikikan ditanya begitu. Sebenernya yang saya suka dari wisata religi ke kuil ini adalah suasana nya. Mereka ikhlas-ikhlas saja tempat ibadahnya dikunjungi.Dan wisatawannya juga sangat tau diri untuk tidak mengganggu yang sedang beribadah. Bandingkan dengan perayaan Waisak di Borobudur beberapa bulan lalu yang hilang arah gegara para DSLRer yang jeprat jepret dari jarak gak manusiawi pakai pakaian minim pula. Di sini orang boleh masuk ke kuil jika sedang tidak ada upacara penting dan wajib memakai pakaian yang sopan. Ada petugas yang mengawasi pakaian kita sebelum masuk kuil, jika dirasa kurang pantas,mereka dengan senang hati meminjamkan coat ke wisatawan tersebut.
Chiang Mai yang di juluki 'Rose of the North' merupakan kota kecil di bagian utara Thailand yang terkenal dengan keindahan kuil-kuilnya. Kuil-kuil indah ini terletak 1 komplek di tengah kota yang dinamakan Old City. Old city ini dikelilingi pagar batu bata tinggi, yang hanya tersisa reruntuhannya saat ini. Kuil-kuil di Chiang Mai merupakan peninggalan dari kerajaan Lanna yang pernah berkuasa di sini. Kalau saya bilang type kuil di Chiang Mai, Bangkok dan Ayuthaya berbeda. Di Chiang Mai kuil di dominasi warna emas, Ayuthaya masih eksis dengan terracota, dan Bangkok perpaduan dari keduanya.Saking banyaknya kuil yang ada di kota ini (at least tiap gang punya 1 kuil) kota ini sering dijuluki kota seribu kuil.
Saya melakukan city tour keliling kuil-kuil ini menggunakan sepeda motor, yang dapat di sewa di hostel-hostel seharga 200 THB per hari. Hari ke 2 di Chiang Mai saya habiskan dengan wisata religi keluar masuk kuil. Dengan berbekal peta dan penjelasan singkat dari Jeab si empunya diva guesthouse tempat saya menginap ,dengan PDnya saya melalang buana pake motor. Agenda pertama adalah jemput temen saya Nozomi di hostelnya di daerah Naehim. Dengan jarak yang Cuma selemparan batu antara hostel saya dan hostelny Nozomi saja, saja sudah nyasar dengan muterin Old City. Kemampuan saya membaca peta memang mengenaskan. Setelah 1.5 kali putaran akhirnya saya menemukan hostel nya Nozomi .Selanjutnya kita bergerak naik ke Doi Suthep Temple yang terletak di atas bukit. 
Perjalanan ke Doi Suthep ini bener-bener naik-naik ke atas bukit, disertai kelokan kelokan tajam plus suhu yang lagi-lagi gak manusiawi buat manusia tropis. Waktu tempuh yang dibutuhkan untuk ke kuil ini sekitar 30 menit dari pusat kota Chiang Mai dengan catatan anda jago baca peta.Di tengah jalan kita berhenti saking gak kuat nya dengan suhu dingin sambil melihat panorama kota Chiang Mai dari atas bukit. Panorama nya cantik,tapi sayang cuaca sedang berkabut dan kita benar-benar tidak kuat dengan terpaan angin dingin di atas bukit. 
Chiang Mai from above
Kita sampai di Doi Suthep temple sekitar jam 10 pagi,kondisinya sangat ramai dipenuhi oleh turis lokal dan non lokal. Tiket masuk ke kuil 50THB plus 30THB untuk naik lift ke atas bukit,dimana kuil utama bertengger. Setelah sampai di puncak bukit kita mlongo kuilnya benar-benar megah berwarna emas dan besar. Kuil ini merupakan kuil budhis dan cara mereka beribadah ialah dengan 'tawaf' mengelilingi stupa utama.
Golden Stupa of Doi Suthep Temple
So apa aja sih yang dapat kamu nikmatin ketika lagi di Doi Suthep temple ini? Pertama tentu saja liat kuil utama nya yang gonjreng abis.Kedua kamu bisa nangkring di panorama view di pojokan kuil,untuk melihat panorama kota Chiang mai dari atas bukit. Ketiga kalau kamu hobi fitnes kamu bisa loh meng skip fee naik eskalator buat ke kuil dan nyoba menyusuri dragon stair yang gosipnya memiliki 1000 anak tangga. Keempat cobain jajanan yang di jual di emperan kuil,lumayan buat mengusir udara dingin murah pula. Dengan estimasi waktu 1,5 jam berada di kawasan ini kamu bisa kok mencoba semua aktifitas tersebut di atas.
dragon stair of Doi Suthep temple

Jajanan Surabi seharga 20THB
Setelah puas jalan jalan di Doi Suthep kita balik ke arah kota dengan tujuan temple hopping di kuil-kuil yang terletak di Old City. Kuil pertama yang kita tuju adalah sebuah kuil putih (yang saya gak tau namanya) yang terletak di depan Chiang Mai University. Kuil ini sangat sepi, hanya ada 3 wisatawan yang sedang berkeliling ke kuil ini ketika itu. Aktifitas menarik yang dapat dilakukan di sini ialah "melamun" yess day dreaming di kuil sedamai ini merupakan pilihan yang tepat. Hal kedua yang dapat dilakukan adalah makan Khao Soi di warung depan kuil yang ternyata enak nya minta ampun. Khao Soi ini merupakan sebuah makanan mie rebus yang di kasih kuah kari plus ayam dengan sensasi rasa pedas yang menggugah selera. Pasangan tepat buat si Khao Soi ini adalah Thai Tea green, bayangin kedua kombo ini aja udah bikin saya ngiler pengen makan lagi.hehehehe.
Kuil putih (have no clue about its name)
Khao Soi
Puas makan makan dan leyeh-leyeh di kuil putih,kita melanjutkan perjalanan temple hopping kita. Tujuan berikutnya adalah Wat Chedi Luang yang ternyata letaknya tidak jauh dari hostel saya menginap. Seperti layaknya kuil-kuil budhis di Thailand, warna gold emang lagi nge hits banget, sampai semua ornamen kuil pasti ada nuansa gold nya. Things to do here just screw around liat-liat kuil, photo-photo dan mengamati orang yang lagi beribadah di sini. By the way para wisatawan bule itu bener-bener melakukan wisata religi beneran loh, mereka ampe melakukan sesi curhat plus minta wejangan segala ke biksu di kuil. Dan kuil-kuil di sini kalau mau renovasi minta sumbangannya gak nge ganggu macam kalo di pantura bangun masjid, yang bikin macet gegara minta sumbangan di pinggir jalan gitu. Mereka cukup memberi boks donasi ajah dan renovasi nya selalu lancar.
Tampak depan Wat Chedi Luang
Suasana di dalam kuil
Kuil di belakang
Puas jalan-jalan di kuil Chedi Luang ini kita beralih ke Wat Phra Singh. Kuil ini di lingkari besar-besar di petanya Nozomi karena kata temannya must visit temple banget di Chiang Mai. Kuil ini terkenal dengan arsitektur gaya North Thailand yang kental. Kalau di Wat Chedi Luang warna emas masih di kombinasi sama warna biru dll, di kuil ini warna emas menguasai seluruh ornamen kuil tanpa tambahan warna-warna lain. Things to do here sama sih jalan-jalan, poto-poto, leyeh-leyeh.
in front off wat phra singh
kuil-kuil kecil di sekitar wat phra singh
Setelah puas jalan-jalan ke kuil-kuil penting di Chiang Mai kita menuju Tha Pae Gate. Tha Pae Gate ini adalah satu-satu nya gerbang kota tua yang masih terjaga bentuknya. Pusat segala aktifitas tourim berada di sekitaran tha pae gate ini. Hal menarik yang dapat kamu nikmati di sini ialah watching people. Kenapa?kalau sore hari lapangan di sekitaran gate ini penuh manusia aneka rupa, ada yang sekedar bertemu teman, piknik ,ngasih makan burung, main musik, atau doing nothing macam saya gini.
Tha Pae Gate
Gak sengaja moto lady boy
Tujuan terakhir dari acara muter-muter seharian ini adalah "melamun di pinggir kali". Dalam perjalanan mengantarkan nozomi balik ke hostelnya saya melihat tempat strategis sebagai sarana acara melamun kali ini yaitu di reruntuhan tembok kota, di atas sungai ping. Ternyata bukan saya saja yang tertarik dengan acara melamun di pinggir kali ini, ketika saya sampai di tempat tujuan ada kira-kira 4 orang yang melakukan doing nothing sambil nulis, ah i miss that moment.
View di tempat melamun
Ada juga yang kecentilan poto-poto di sini
Peta Chiang Mai pake huruf honocoroko
Selesailah sudah acara wisata kuil komplit plus melamun di pinggir kali. Saya harus balik ke hostel buat numpang sholat,, sebenernya pengen nyoba Thai Massage tapi karena tak terburu waktu akhirnya saya cuma bisa berharap nanti di Bangkok bakalan sempet pijet ala Thailand ini.