Minggu, 20 September 2015

Berburu Juwet di Nusa Lembongan



Postingan ini tergolong terlambat, sangat terlambat bahkan. Saya melakukan trip ke nusa lembongan sudah cukup lama, ketika pergantian tahun 2013 ke 2014. Kali itu saya ke Bali selama 4 hari, muter-muter gak jelas sampe karang asem, trus tetiba pengen ke Lembongan. Berbekal sedikit googling dan tanya kanan kiri akhirnya tepat tgl 31 desember 2013 saya dan rekan saya purna berangkat ke nusa lembongan. Perjalanan di awali dengan naik speed boat dari sanur seharga 70rb per person kalo tidak salah. Speed boat ini penampakannya lumayan representative, akan tetapi ombak di laut pada bulan desember bisa bikin kita berasa naik kora-kora selama 1 jam penuh non stop. Dengan attitude kita yang sangat Indonesia sekali yaitu jejeritan tiap kali dihadang ombak bener-bener bikin bĂȘte orang se kapal (tolong jgn ditiru). Akhirnya setelah perjalanan yang panjang dan menguras banyak jeritan itu, kita mendarat di pelabuhan kecil di nusa lembongan. Jemputan dari hotel yang kita pesan pun sudah siaga menunggu kita. Jadi hotel/guest house yang kita book bernama wahyu home stay,terletak di jalan kecil dekat pelabuhan Jungkut Batu, rate nya lumayan murah yaitu 150 ribu/night sudah dapat kamar ber AC, sarapan,dan boleh renang sepuasnya di swimming pool di depan kamar.
Swimming pool mini di wahyu guest house
Puas gegoleran di kamar hotel plus melakukan transaksi sewa motor ke si empunya hotel, kita mulai bergerak dan sok-sok an baca peta. Guys baca peta emanglah sebuah pekerjaan yang amat sulit bagi seorang wanita, bahkan yang dlu kuliahnya dapet mata kuliah ILMU UKUR TANAH dan bikin peta. Dengan kecerdasan seadanya dalam baca peta kita sudah sukses wan prestasi muter-muterin pulau kecil ini, dan bego nya kok ya ada turis Jepang yang ngikutin kita, akhirnya nyasar berjamaah lah kita. Critanya dipeta yang di kasih mbak-mbak hotel sudah ditandai mana-mana pantai tempat snorkling, tempat leyeh-leyeh dan mana yang bertebing. Maksud hati ke dream beach malah nyasar ke mushroom beach karena gak bisa baca peta itu emang sesuatu. But gak masalah, mushroom beach ini lumayan kece, di sini berkumpul hotel-hotel yang lumayan dan tempat bersandar kapal-kapal pesiar. Air laut di sini warna nya tosca, pasirnya putih dan banyak bule keleleran tapi gak sip buat di pake semedi, rame bok.
Mushroom beach with its tosca water
Next destination ialah nyari di dream beach ampe ktemu, usut punya usut ternyata pantai yang kita tuju ini ditutupi oleh resort mewah (fyuhhhh) dan jalan akses satu-satunya adalah minta ijin lewat di resort itu, dan karena kita gengsi (makan tu gengsi) buat nanya, akhirnya kita muter-muter gak jelas nyari jalan akses yang ternyata ada di dalam resort. Saya miris dengan kondisi ini, harusnya pantai itu tidak boleh dikuasai resort, artinya semua orang boleh bebas masuk dan menikmati pantai itu. Dream beach ini secara garis besar cantik, ombaknya gede pasirnya putih, dikelilingi tebing-tebing kokoh di kanan kiri dan yang pasti air lautnya kece badai. Kita cukup lama leyeh-leyeh di sini sebelum melanjutkan ke destinasi berikutnya.
dream beach dilihat dari atas tebing
masih di dream beach yang yummy

Sebelum beralih ke destinasi berikutnya saya mau menceritakan acara nyasar saya yang berujung menemukan pantai yang namanya bombastis di sekitaran dream beach, apakah nama pantai itu?namanya “devil tears” pemirsa, serem abis ya namanya. Isinya sebenernya bukan pantai yang bisa di ceburin, pantai ini merupakan sebuah teluk kecil yang dikepung tebing curam. Kenapa di kasih nama serem?karena suara ombak yang di pecah di situ serem abis meraung-raung bahagia gitu. Warna laut di pantai ini jugak serem, biru tua mennn gelap dalam, sedalam cintaku padamu (apasih). Jadi kita menghabiskan sekitar setengah jam buat bengong di tepi tebingnya devil tears, bukan dalam rangka pengen bunuh diri, kita cuma ngelamun di tepi tebing sambil mendengarkan suara ombak pecah nan berisik. 
tebing nya devil tears

Selese ber menye-menye bersama sang ombak nang meraung, kita lanjut membaca peta (nangisss) untuk menuju tujuan berikutnya yaitu blue lagoon. Jadi blue lagoon ini terletak di pulau sebelah yang bernama Nusa Ceningan, apakah kita kudu mendayung dlu untuk kesana?alhamdulilah nggak perlu karena sudah ada jembatan kecil yang menghubungkan kedua pulau ini. Persoalannya adalah petunjuk jalan menuju lagoon sangat minus, kita sudah was-was nyasar karena jalanan yang mengecil, setelah nyasar ke sebuah cafe yang bernama blue lagoon (okehhh) kita tanya kanan kiri dan akhirnya nemu si pantai yang di cari-cari. Sebelum saya cerita tentang Blue Lagoon yang berwarna biru itu saya mau cerita tentang tanaman yang banyak kita jumpai sepanjang jalan di Ceningan, apakah itu?JUWET (harus pakai capslock) bagi para pemuda pemudi masa kini mungkin kurang familiar dengan buah berwarna ungu ini, tapi buat angkatan saya, buah ini tenar sekali pas jaman masih TK dan SD. Jadilah sepanjang jalan saya dan purna dengan indahnya berubah jadi gadis pemburu juwet, soal rasa kalo kamu pas beruntung dapet yang ranum ya manis, tapi kalo pas apes ya dapetnya kecut. Sayang sekali saya gak kepikiran buat mengambil dokumentasi dari si juwet dan pohonnya.

Back to a long road to find the famous blue lagoon, untuk menuju tempat ini kita kudu jalan agak jauh, menyusuri jalan setapak yang suerrr romantis abis klo di pake kencan. Dan ketika saya menulis ini purna said that is time for me to find another mas-mas buat diajakin berburu juwet di Lembongan (uhuuuukkkk).
a long path to reach blue lagoon
Tentang Blue Lagoon, jangan harap kalian bisa nyemplung dan berenang lucu di sini, tidak, di sini kalian harus cukup puas memandang si Lagoon dari jauh tanpa kudu di ceburin, kalau ada yang perlu bukti tentang konsep cinta tak harus memiliki boleh lah melamun di sini hahaha. Akan tetapi kalau kalian bener-bener pengen nyebur plus masuk golongan adrenaline junkie kalian bisa nyoba ikutan lompat dari jumping point yang ada di sini. Ketinggian dari tebing ke air laut di bawah ya sekitar 25 m, kata orang yang udah pernah nyemplung sih ini asyik banget, buat saya dan purna, sorry trima kasih kita masih doyan makan nasi ketimbang adrenaline. So, Blue Lagoon dari namanya pasti kalian gak berharap bahwa air lautnya berwarna selain biru kan? Jadi lagoon di sini sebenarnya bukan danau tapi sebuah teluk kecil yang menurut saya memiliki garis pantai romantis berbentuk hati, yang dibanjiri oleh air laut berwarna gradasi dari toska hingga biru.

 
Blue Lagoon

Berbicara soal aktifitas, apa saja sih yang bisa di lakukan di blue lagoon selain Cuma bengong? Kalo buat saya nothing, bengong plus day dreaming di sini sambil bergosib gak penting ato membahas urusan Negara merupakan hal yang tak ternilai harganya. Puas ber day dreaming di blue lagoon kita mulai angkat kaki, berjalan tanpa arah, tanpa pakai peta cuma pakai feeling ajah. Dan guest what, kita nemu sebuah villa rusak di tepi tebing dengan pemandangan yang fantastis, dengan sedikit loncat pager kita nemu spot buat nyunset yang sangat tepat, melihat matahari terakhir tahun 2013 (yang sayangnya pas itu ketutup mendung), sambil berdoa semoga diberi kehidupan yang lebih baik di 2014. Oh ya di sebelah villa rusak yang kita claim sebagai tempat rahasia buat bengong ini, ada sebuah villa bagus yang sumpah bikin ngiler buat di inepin, sampai sekarang saya masih inget doa saya kala itu Ya Allah kasih ak kesempatan buat ke sini lagi dalam rangka honeymoon trus nginep di villa itu (yang nampaknya belum dikabulkan sampai detik ini) hahahahaha.
abaikan sandal pink di atas inlah view dari villa rusak yang kita temukan
Villa idaman (cuma bisa ngintip)

Selesai leyeh-leyeh di villa rusak itu kita mlipir lagi menyusuri pantai-pantai yang belum sempet kita tengok sambil balik ke hotel di Jungut Batu. Ternyata ada sebuah pantai yang memiliki garis panjang terhampar di balik sebuah cafe, ketika kita sampai, cafe nya sedang bersiap untuk mengadakan pesta tahun baru, dan kita dengan polosnya lewat doing demi menuju pantai. Typical pantai di sini memang berombak ganas dan tidak bisa di ceburin, tapi sepi dan ombak yang ditawarkan masih merupakan perpaduan tiada dua nya bagi saya.
Pantai yang entah apa namanya
Jadi setelah seharian muterin Lembongan saya dan purna sudah terlalu capek untuk ikutan party ato begandang menyambut tahun baru. Malam itu saya mengajak purna jalan ke pantai di dekat hotel, malem-malem di pantai yang gelap kita ngobrol ngalor ngidul sampe puas dan di buat bubar jalan oleh hujan. Believe it or not di malam taun baru yang ceria itu hujan pemirsa, jadilah kita lari balik ke hotel dan minta dibikinin makanan ama mbaknya, setelah ngobrol ama si mbak penjaga, sekitar pukul 9 malam kita tidur dengan suksesnya. Kita terbangun jam 12 malam karena mendengar petasan dan suara kembang api yang heboh dari luar, melek sebentar, saling ngucapin happy new year dan tidur lagi. Pagi hari kita cepet-cepet bersiap untuk balik ke Denpasar, apes nian hujan turun dengan derasnya ketika kita mau nyebrang, sudah dapat di pastikan saya dan purna pucat pasi (lagi) menghadapi ombak laut yang ganas karena cuaca buruk. Sesampai di Denpasar hujan masih turun sangat deras dan kita menghabiskan sore ceria itu dengan makan bakso demi menghilangkan mabok laut yang tak berkesudahan. Selesailah perjalanan tahun baru saya, kalau dipikir-pikir kala itu adalah terakhir kali nya saya merayakan tahun baru dengan trip, tahun baru 2015 kemaren saya cukup puas dengan tidur nyenyak di rumah ketika tahun baru.